Copyright © Jejak Karya
Design by Dzignine
Rabu, 04 Februari 2015

Sajak Pena Biru

Assalamualaikum kawan..
Bagaimana kabar kawan semua? Sedang dalam waktu luang atau merasa dikejar waktu seperti aku? Haha.. Apapun waktu kalian, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menengok rumah karyaku ini. Aha, dalam kesempatan kali ini aku akan menampilkan beberapa karyaku dan teman Pena Biru. Sudah tahu kan siapa saja kawanku di Pena Biru? Aku membahasnya di postinganku sebelumnya. Jika kawan belum tahu, silahkan mencari di postingan sebelum ini, oke?
Kali ini aku akan menyajikan karya dalam bentuk sajak. Yap, puisi. Puisi ini kai buat dengan cara estafet seperti sebelumnya saat kami membuat cerpen. Memang sulit menyatukan empat ide menjadi satu puisi dengan satu alur. Tapi inilah kami dengan keunikan dan khas masing-masing, selalu ada karya baru yang dapat dinikmati oleh kawan semua. Semoga Pena Biru lebih bisa istiqomah ya kawan dalam berkarya. Oke, tanpa panjang lebar ini dia persembahan dari Pena Biru :

Saat aku terdiam
Saat itu pula purnama mempesona diri
Saat akal ini tak lagi singkron dengan hati
Saat itu pula angin membisikkan kabar tentangmu,
yang telah lama ku nanti
Sabtu, 20 September 2014

Pemuja Rahasia

Kawan, ini adalah sebagian kecil karyaku bersama "Pena Biru". Tim penulis yang beranggotakan Aleya (Asmaul Hidaya), Fifi Tiara (Fifi Tiara Miftahul Janah), Tasmeera E. B. (Fuadati Mushaffa), dan Lathifa Za (aku sendiri). Aku menemukan kebersamaan dengan mereka sejak aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Masih dini memang, tapi kami yakin bahwa suatu hari kami akan membuat mimpi kami menjadi seorang penulis menjadi kenyataan.
Yang satu ini adalah cerpen (cerita pendek) hasil karyaku dan Fifi Tiara. Kami menuliskan kisah ini secara estafet saat mata pelajaran ketrampilan otomitif berlangsung hari ini. Agar tidak merasa kantuk, aku dan Fifi mencoba hal baru dengan menulis cerpen estafet pada selembar kertas hasil meminta teman. Ingin tahu hasil keusilan kami? Ini dia..

Siang ini matahari sedang gencar-gencarnya memanaskan bumi. Membuatku malas dengan yang kulakukan saat ini. Mata pelajaran otomotif yang sebenarnya tak satupun kupahami, harus kuikuti demi beberapa angka tanda prestasi. Untungnya ada dia disini. Faisal, teman sekelasku yang telah lama menjadi bagian dunia khayalku.
Rabu, 23 Juli 2014

Rindu Siang Malam #2

Pagi ini adalah pagi pertamaku di Kota Buku, Yogyakarta. Satu-satunya hal yang aku lakukan di hari pertamaku ini adalah pergi ke sekolah yang tentunya juga baru. Entah energi apa yang merasuki sukmaku, hingga aku merasa sangat bersemangat untuk melangkahkan kaki kecilku ke sekolah. Padahal aku belum mengetahui seperti apa rupa sekolah yang akan menjadi sandaranku menimba ilmu tiga tahun kedepan. Rasanya ada saja magnet yang menarikku untuk bergegas pergi ke sana.
Tepat pukul 06.30 WIB, usai sarapan bersama Nina, saudara tiriku, aku keluar dari pekarangan rumah. Ku raih sepeda baru warna biru yang akan mengantarku menuju harapan baru. Tak ada wangi udara seharum udara pagi ini. Entah parfum apa yang di gunakan sang surya saat menebar sinarnya. Kurasakan kayuhan pertama yang tak seberat anganku. Perlahan menular ke kayuhan demi kayuhan berikutnya, hingga semua terasa ringan. Lagu  kesukaanku yang mengalun lirih lewat earphone yang tersambung dengan MP3, menambah sedap pagi ini. Gerbang sekolah telah menanti, seakan ingin memelukku sebagai ucapan selamat datang.
Rabu, 30 April 2014

The Journey of My Love Part 3



Dunia terasa tidak adil bagiku. Aku sudah capek dengan semua ini,ternyata semua cowok sama saja. Aku ingin melupakan semuanya dan melakukan aktifitasku sehari-hari tanpa seorang pacar.
Drrrttt.... hp ku bergetar tanda ada pesan masuk.
To: Ghea
Malam, apa kbr?
Hatiku berdesir membaca SMS itu. Reno? Ternyata dia masih ingat denganku? Aneh kanapa aku senang sekali.

The Journey of My Love Part 2



Benar saja tiga hari setelah aku putus dengannya, Rika memberikan informasi padaku kalau ternyata orang tua Reno bercerai. Aku shocked mendengar informasi tersebut. Perasaanku mulai tak keruan, menyesal, marah pada diriku sendiri, bingung harus berbuat apa. Tapi aku juga kecewa dengan sikapnya padaku, sebelum aku putus darinya banyak informasi yang kuterima kalau Reno sedang dekat dengan si A, si B, si C, dan si si yang lain. Hati cewek mana yang tidak sakit diperlakukan seperti itu dan setiap aku menanyakan tentang kebenaran semua cerita itu pada Reno, dia selalu bilang kalau itu hanya temannya. Haahh.. entahlah aku mulai muak dengan semua ini.

Rindu Siang Malam


Kemuning senja di ufuk barat tergambar jelas, kian menegaskan bahwa siang akan berganti malam. Bulan akan segera nampak dalam gelap malam dengan balutan gemerlap bintang. Berakhirnya siang menemani berakhirnya kegiatan seorang pemuda dari rutinitas sekolahnya. Jika senja telah datang barulah ia akan melangkahkan kakinya menuju parkir sepeda dan bergegas mengambil sepeda fixienya. Dikayuhnya sepeda dengan pelan namun bertenaga, membuatnya lekas sampai di rumah dalam waktu yang tak terlalu lama. Sambil menikmati angin senja, ia melewati tiap belokan menuju rumahnya dengan menyanyikan beberapa lagu.

The Journey of My Love




Fifi Tiara Miftachul Janah

Aku masih ingat ketika kita berkenalan. Caramu memandangku membuat hatiku berdesir, semua kata-kata yang keluar dari mulutmu begitu manis, dan ketika kau mengajukan pertanyaan itu jadilah aku tak bisa tidur semalaman untuk memikirkan jawabannya. Baru kali ini aku merasakan hal semacam itu dalam hidupku. Bayangkan saja, aku baru mengenalmu satu bulan lamanya dan kau berhasil memikat hatiku dengan penampilanmu. Salahkah aku jika hanya bisa memandangmu dari penampilan saja? Kalau melihat kondisiku juga hubungan kita nampaknya jawaban yang tepat adalah, ya. Suara gemercik air selalu berhasil menenangkan hatiku. Ya, disinilah aku sekarang. Ditempat kita saling berbagi tawa, suka dan duka. Semua masih tersimpan dengan baik di memoryku dan sungai inilah yang menjadi saksi bisu cinta kita.

“Ghea!!!” suara teriakan seseorang membuyarkan lamunanku, kupalingkan wajahku dan kudapati Cila sedang berjalan kearahku sambil mengatur nafasnya.
Kamis, 27 Februari 2014

Negatif yang Dibilang Positif

Sikap dalam kehidupan setiap orang memang berbeda-beda. Antara satu orang dengan yang lain memang mustahil terdapat sikap yang sama persis. Namun, apa sebenarnya yang disebut sikap? Sikap adalah perilaku atau gerak gerik seseorang. Sikap yang tercipta dalam diri seseorang tentunya muncul karena beberapa factor, seperti pendidikan, lingkungan dan media masa, juga faktor emosi dalam diri seseorang itu sendiri. Dari beberapa faktor yang mempengaruhi sikap seseorang, faktor yang paling utama adalah emosi dalam diri sendiri. Bagaimanapun pengaruh dari luar terhadap sikap kita, pada akhirnya diri kita sendiri yang akan menentukan mau seperti apa sikap kita.
Selasa, 25 Februari 2014

Puisi Kebencian

Puisi Kebencian - Berbicara berbagai problematika hidup, semua selalu diciptakan berpasang-pasang. Ada hitam ada putih, ada senang juga ada benci. Kebencian adalah perasaan tidak suka terhadap sesuatu. Kadang seseorang meluapkan kebenciannya terhadap sesuatu dengan hal-hal yang dapat melegakan atau menghilangkan rasa benci tersebut. Namun, tidak jarang justru cara yang mereka ambil adalah cara negatif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Salah satu cara untuk meluapakan kebencian dapat dengan menuliskan puisi hidup tentang rasa benci itu sendiri. Dengan demikian tidak ada yang dirugikan, bahkan justru menghasilkan sebuah karya. Berikut ini contoh puisi hidup.

Puisi Seorang Pujangga

Puisi Seorang Pujangga-Pujangga adalah sebutan untuk seseorang yang mengarang atau menghasilkan karya sastra baik puisi maupun prosa. Saat ini sudah banyak pujangga-pujangga muda yang menghasilkan karya-karya baru dan sangat menarik. Kebanyakan para pujangga akan menulis mengenai ulasan kehidupan. Mulai dari perasaan, kisah hidup hingga keadaan alam akan berubah menjadi deretan kata yang indah di tangan pujangga. Namun, bagaimana kehidupan para pujangga itu sendiri? 

Berikut ini adalah puisi seorang pujangga yang menceritakan kehidupan pujangga itu sendiri. Bagaimana cara mereka melihat kehidupan lewat perasaan dan dituangkan dalam untaian kata yang dapat dinikmati dalam bentuk puisi dan prosa.

Puisi Cinta 2

Puisi Cinta - Satu lagi puisi bertemakan satu kata yang tak pernah lepas dari kehidupan, cinta. Cinta memang tetap manis saat disajikan dalam bentuk apapun. serumit atau sesederhana apapun kata-kata yang menggambarkan cinta, kata itu tetaplah indah didengar dan diucapkan. Di bawah ini satu lagi pengambaran rasa cinta melalui puisi cinta. 

Puisi Cinta 1

Puisi cinta-Cinta memang tak pernah lepas dari kehidupan manusia. Kehidupan ini pula bermula dari sebuah cinta. Tak dapat dibayangkan bagaimana kehidupan saat ini jika tanpa cinta. Mungkin akan berlangsung dengan sangat membosankan. Menyatakan rasa cinta kepada orang yang kita cintai dapat dengan berbagai cara. Tergantung bagaimana karakter orang tersebut. Salah satu cara menyatakan cinta adalah dengan media puisi. Saat ini sudah bermunculan para pujangga dengan aliran sastra masing-masing. Aliran dengan gaya bahasa yang romantis memang masih menjadi kesukaan kebanyakan pujangga. Karena mengungkapkan rasa cinta lebih mudah daripada harus berpikir kritis mengenai permasalahan hidup lainnya.

Berikut ini salah satu puisi cinta yang mengungkapkan tentang rasa cinta kepada seseorang namun tak tersampaikan. Puisi ini menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan cocok untuk kalangan remaja.


Jauh Dipandang

Mata ini tak dapat melihat 
Tak ingin tertangkap sorot mata di depannya
Sejumlah frasa yang tercipta indah
Tak sanggup mengartikan segalanya
Terlalu berat jika dilakukan
Namun, tak rela jika dittinggalkan
Cukup terdiam di tempat ini
Sendiri di kejauhan sukmamu
Menatap nanar ke arahmu
Seolah semua akan berhenti
Detik itu pula,
Semua terasa jelas dan nyata
Tak ada fakta yang berdusta
Hanya kenyataan yang ada
Setelah semua mengerti tanpa bicara
Hati dan raga ini akan menerima
Selamanya, dalam kekekalan

Cinta memang tak pernah habis jika dibicarakan. Cinta akan selalu mengikuti kehidupan manusia sampai kapanpun. Itulah sarah satu contoh puisi cinta yang mudah untuk remaja. Semoga dapat menginpirasi pembaca untuk terus berkarya.

Lipatan Syukur

Ini adalah postingan dalam akun blogku yang lain. Tujuanku hanya satu, menggabungkannya menjadi satu dengan karyaku yang lain.


Selamat malam semuanya,

Ini akan menjadi karya pertama dalam blog ini yang tidak berbentuk puisi. Bukan ingin merubah citra blog ini sebagai blog puisi, tetapi hanya ingin menampilkan hal baru dan menanti respon dari pembaca. Next, aku cuma ingin berbagi rasa yang udah aku rasain sehrian ini.

Merasa kehilangan memang sulit. Namun, bagaimana jika kehilangan itu dibungskus dengan rasa syukur atas hikmah yang akan muncul setelahnya. Sebelumnya pernahkah kalian merasakan kehilangan hal yang menurut kalian sangat berharga bagi hidup ini? Jika pernah, apa yang kalian rasakan? Mungkin kecewa, menyesal dan sedih. Yups, itulah yang sedang mengisi hati dan pikiranku saat ini. Melambung tinggi bersama kenangan-kenangan indah yang masih tersisa dalam memori otakku tentang hal yang saat ini telah tak ku genggam.
Awalnya aku merasa diperlakukan tak adil oleh keadaan. Berusaha mengeluarkan rasa kesal dalam hati dengan tangisan. Namun, sia-sia. Hanya akan menguras tenaga saja. Kuputuskan untuk mengakhiri keputus asaan yang aku alami. Mencoba bangkit dalam keterpurukan hati, mencerna kenyataan yang sedang terjadi, dan menerima takdir hari ini. Kalian tahu, tanpa sadar aku telah menyakiti hati banyak orang dengan sikapku saat ini. Bukannya aku tak sadar, tapi tidak terlalu peka dengan rasa seseorang. Untuknya, hanya maaf yang tersisa.

Kini, lipatan syukur yang tercipta telah menutup rasa kecewa dan putus asa. Terimakasih telah mengangkatku dari dasar rasa yang tak patut ku jalani.
Minggu, 10 November 2013

Batik Nilam


            “Yen ing tawang ono lintang… Cah ayu… Aku ngenteni ….” Terdengar suara merdu nan lembut dari seorang wanita yang menyanyikan lagu jawa.
            “Ehm, Nilam…” seorang paruh baya keluar dari bilik bambu.
            “Ah, eyang”  gadis yang sedang asyik bercermin dan melantunkan tembang jawa itu kemudian berpaling dan tersenyum ke arah seseorang yang memanggilnya.
            Nilam, seorang gadis berusia 17 tahun yang hidup di tengah kemajuan kota Yogyakarta. Seorang siswi sekolah menengah atas yang menggeluti modelling berkat kemenangannya pada sebuah ajang putri budaya.
            “Wah, cucu eyang cantik sekali ya? Pantas saja bisa jadi putri budaya” ujar wanita paruh baya  dengan mengelus rambut cucu perempuan yang sangat disayanginya itu.
            “Hehe, eyang bisa aja. Eyang juga cantik kok” jawab Nilam dengan senyum manis.
            “Nilam, eyang punya sesuatu buat kamu”
            “Apa ini eyang? Nilam nggak ulang tahun eyang” Nilam menerima kotak berbungkus motif batik tersebut dengan penuh tanda tanya.
            “Nilam buka ketika Nilam mau tidur ya? Dan ikuti kata hatimu” jawab eyang dengan singkat tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan di pikiran Nilam.
***
            Malam pun tiba. Usai mengerjakan tugas libur semester, Nilam hendak menuju tempat tidur. Namun, ketika hendak memejamkan mata, Nilam teringat pemberian eyang siang tadi yang ia simpan di dalam lemari pakaian. Dia kemudian mengurungkan niatnya untuk tidur dan beranjak mengambil kotak batik di dalam lemari pakaian. Dibawanya kotak itu kedepan meja riasnya. Ada jutaan pertanyaan dalam benak Nilam. Tanpa ragu, Nilam segera membuka kotak batik tersebut.
            Kain batik berwarna ungu dengan motif tak beraturan. Nilam sangat terkejut dengan pemberian  eyang. Bukankah eyang tahu ia membenci warna ungu dan tak begitu suka dengan batik meski ia seorang putri budaya? Nilam agak kecewa dengan pemberian itu.
            “Eyang, apa-apaan sih? Kenapa ngasih beginian? Nggak asik banget, buat apa coba? Nggak ada gunanya” gerutu Nilam sambil membentangkan kain batik itu.
            Saat itu juga sebuah kertas kuning jatuh ke lantai. Nilam pun memungutnya dan membuka dengan perlahan.
            “Nilam, eyang pergi dahulu. Kalau Nilam ingin mencari eyang, ikuti kata hati Nilam. Salam cinta dari eyang” singkat dan padat isi surat yang ternyata dari eyang.
            Sesaat kemudian Nilam baru menyadari kepergian eyang. Ia langsung berlari ke kamar eyang. Dan benar saja eyang tak ada di kamar. Air mata Nilam mulai berlinang. Lalu ia berjalan kembali menuju kamarnya, namun suasana terasa berbeda dengan biasanya. Padahal ini bukan kali pertamanya ia harus bermalam dirumah sendiri. Ia mencoba menenangkan diri namun tetap saja hatinya merasa tak tenang.
            Akhirnya Nilam mempercepat langkahnya menuju kamar tidur. Sebelum Nilam memejamkan mata, ia memikirkan kembali isi surat eyang. Nilam memutuskan besok pagi ia akan berusaha mencari keberadaan eyang.
***
            Sinar mentari membangunkan Nilam dari tidurnya. Ia menggeliat dari posisi tidurnya. Sedetik kemudian matanya langsung terbuka lebar mengingat kejadian menghilangnya eyang semalam. Nilam bergegas meninggalkan tempat tidur dan menuju kamar mandi. Namun, ada sesuatu yang menyandungnya. Kotak pemberian eyang di depan kamar mandi. Nilam ingat benar bahwa semalam kotak itu berada di meja rias bukan di laintai. Nilam semakin ketakutan dengan semua keanehan ini dan bergegas mandi dan bersiap untuk mencari eyang.
            Usai bersiap Nilam langsung menyambar kain batik pemberian eyang dan segera pergi meninggalkan rumah karena ketakutan. Dalam perjalanan entah kemana, Nilam bertambah bingung dengan tujuan pencarian eyang.
            “Ikuti kata hati? Maksudnya apa sih? Nggak ada alamat gimana bisa nyari?” gerutu Nilam dalam hati.
            Tiba-tiba taksi yang dinaiki Nilam mogok. Nilampun harus turun di tengah jalan. Betapa kesalnya Nilam harus berjalan ditengah terik panas matahari dan udara yang berdebu. Ditambah tragedi tabrakan dengan seseorang yang membuatnya kehilangan tas dan bajunya rusak. Yang tersisa hanya kain pemberian eyang. Tidak mungkin Nilam melanjutkan perjalanan dengan keadaan seperti ini.
            Akhirnya di ambang keputus asaan Nilam menemukan sebuah butik yang menjual beberapa baju. Nilam berpikir ia akan mendapatkan kemurahan hati sang pemilik dan menerima pemberian baju dari sang pemilik.
            Nilam memberanikan diri masuk dan meminta sebuah baju untuk dikenakan. Betapa kecewa hati Nilam ketika sang pemilik tak memberinya sebuah pakaian. Namun, sang pemilik mengajukan sebuah solusi.
            “Saya lihat kamu bawa kain batik. Kenapa kamu tidak membuatnya di tempai ini? Saya akan meminjamkan alat-alatnya. Jika sudah jadi, baju itu boleh kamu pakai gratis.”
            Tak pernah terbesit dipikiran Nilam ia akan membuat baju. Ia saja sangat tidak tertarik dengan hal semacam itu. Namun kali ini tak ada pilihan lain, Nilam harus membuat pakaiannya sendiri. susah payah iya membuat pola, memotong kain, menjahit potongan demi potongan kain. Walaupun banyak kesalahan, dalam waktu kurang dari 5 jam sebuah dress yang sederhana namun cantik pun jadi.
            Tiba-tiba seorang pelanggan butik menanyakan karyanya.
            “Mbak, berapa harga dress batik itu?” Tanya seorang pengunjung.
            “Oh maaf ini tidak dijual” jawab Nilam.
            “Sayang ya, padahal saya berani membayar banyak” jawab si pengunjung meninggalkan Nilam dalam keterkejutan.
            Akhirnya Nilam menemukan jawaban dari pernyataan pengunjung butik tadi dari sang pemilik.
            “Memang batik kamu itu batik langka dan bernilai seni tinggi. Makanya dia berani menjual mahal. Tapi mengapa kamu tidak berniat menjualnya? Kamu bisa membeli 2 atau 3 baju dari uang itu” terang sang pemilik butik.
            “Oh begitu. Memangnya dimana saya bisa mendapatkan batik semacam ini?” Tanya Nilam lebih lanjut.
            “Dulu saya pernah buat baju dari batik semacam itu. Saya beli dari sebuah rumah batik di daerah industri” jawab sang pemilik sambil mengingat-ingat sesuatu.
            “Terimakasih” usai mengucapkan terimakasih Nilam langsung berlari meninggalkan butik tersebut.
            Ditengah-tengah pelariannya, Nilam berhenti dan berpikir bagaimana ia bisa mencapai daerah industri itu dengan cepat sedangkan ia tak memiliki uang. Akhirnya Nilam memilih pilihan gila, yaitu dengan  berlari dan menumpang kendaraan lain puluhan kilometer untuk mencapai daerah industri tersebut. Hal yang rasanya mustahil sebelumnya, namun sekarang menjadi kenyataan.
            Sesampainya di daerah industri tersebut, Nilam baru menyadari kesalahannya. Mengapa ia tak menanyakan nama rumah batik itu? Sekarang tidak mungkin Nilam akan bertanya pada satu persatu di rumah-rumah batik yang ada.
            Ditengah pencarian Nilam, ia melihat kain batik yang sedang dijemur di depan sebuah rumah batik dengan nama Kharisma. Entah naluri apa yang membuat Nilam ingin masuk dan melihat lebih dekat. Ketika tangannya hanya tinggal beberapa senti menyentuh kain tersebut, sebuah suara membuyarkan pandangannya.
            “Apa yang membuatmu menyukai batik ini?” seorang wanita membuka suara.
            “Ah maaf. Bukan, bukan. Saya biasa saja dengan batik ini. Hanya saja seperti ada yang menarik saya untuk mendekat” jawab Nilam sambil tetap mengagumi batik tersebut.
            “Masuklah nak. Kelihatannya kamu mencari sesuatu” ajak wanita tersebut sambil menggandeng tangan Nilam.
            Nilam pun mengiyakan ajakan tersebut tanpa berkomentar. Didalam rumah batik tersebut banyak kesibukan seputar pembuatan batik. Mulai dari member menggambar, member malam hingga pewarnaan. Semuanya dikerjakan oleh kaum hawa. Nilam baru sadar bahwa ia dibawa kesuatu ruangan setelah ia dipersilahkan duduk oleh wanita itu.
            “Apa yang akan saya lakukan disini?” Tanya Nilam penuh kebingungan.
            “Buatlah mimpimu disini nak” ujar wanita tersebut kemudian meninggalkan Nilam sendiri dalam ruangan.
            Tersedia berbagai alat yang ia lihat ketika melewati jejeran proses pembuatan batik. Nilam meraih selembar kain putih dan memikirkan sesuatu. Tanpa berpikir panjang Nilam segera mengotak atik semua peralatan dalam ruangan tersebut. Dalam benaknya hanya membuat batik, padahal sebenarnya ia tak tahu bagaimana cara membuat batik.
            Beberapa jam kemudian sebuah kain batik telah tercipta. Nilam membentangkan kain yang telah ia ciptakan, dan sebuah senyum mengembang dari wajahnya. Namun, sebuah suara membuyarkan lamunannya.
            “Bagus ya batik cucu eyang?”
            Nilam sedikit terkejut dengan suara tersebut. Namun, keterkejutan itu berubah menjadi kebahagiaan ketika Nilam tahu itu adalah eyang yang sempat menghilang.
            “Eyaaang….” Teriak Nilam sambil berlari kearah eyang dan memeluknya.
            “Ternyata cucu eyang pintar membatik dan membuat baju yang cantik” goda eyang dengan sennyum pada Nilam.
            “Darimana eyang tahu yang membuat batik dan baju yang Nilam kenakan ini Nilam sendiri?  Jangan-jangan eyang sudah merencanakan ini? ” Tanya Nilam penuh selidik.
            “Tentu saja eyang tahu. Maafkan eyang Nilam. Eyang hanya ingin Nilam tahu tentang semua ini. Buktinya Nilam tahu dan bisa melewati semua kan? Tidak serumit yang kamu kira” jawab eyang seraya tersenyum.
            Sejak saat itu Nilam mulai mengagumi kesenian batik. Nilam juga menjalankan perannya sebagai putri budaya dengan baik. Berkat rentetan kejadian itu Nilam sekarang menjadi seorang desainer batik muda. (Lat’z)

Untuk Dia



            Kebersamaan dan kesetiaan memang dambaan setiap orang yang mencintai orang lain. Namun, dua hal tersebut adalah dua perkara yang berbeda. Kebersamaan yang tak disertai kesetiaan itu hanyalah dusta. Tapi kesetiaan yang tak disertai kebersamaan itulah ketulusan. Kesetiaan yang sejati hanya milik insan yang mencintai dengan tulus dan ikhlas.
            Deretan huruf dalam paragraf tersebut membuatku tak dapat berpikir jernih. Membawaku dalam lamunan jauh dan angan yang tak tersentuh. Siapapun tak akan dapat mengerti apa yang aku rasakan, karena aku sendiri tak dapat menerjemahkan bahasa hatiku saat ini. Namaku Klarisa, aku seorang gadis yang sedang menempuh bangku sekolah menengah atas. Aku termasuk tipe gadis yang mudah memendam masalah, sehingga apapun yang terjadi padaku hanya aku simpan sebagai rahasia pribadiku, kusimpan rapat-rapat dalam hati agar tak seorangpun tahu. Sampai pada satu permasalahan yang tak dapat kusimpan seorang diri. Aku harus membaginya dengan orang yang bermain peran dalam cerita ini.
            Aku hanyalah gadis biasa dan seperti gadis remaja pada umumnya. Gadis yang telah berkenalan dengan satu kata dalam kamus remaja, yakni cinta. Aku telah mengenal dengan dekat seorang pemuda. Pemuda yang aku kenal sejak aku masih mengenakan seragam almameter putih biru. Kami bertemu dalam ketidak sengajaan dan berlanjut hingga menjadi keseriusan. Awalnya kami hanya sebatas berteman, kemudian bersahabat. Berawal dari persahabatan itulah kami mulai mengenal lebih dekat satu sama lain. Hingga akhirnya kami membuat hubungan kami menjadi sebuah hubungan dengan komitmen. Hubungan kami masih illegal karena kedua orang tuaku belum mengetahui. Hingga suatu saat aku menceritakan semuanya kepada ibuku. Saat aku menceritakan semuanya kepada ibuku aku telah mengakhiri komitmenku dengannya. Sehingga kami hanya berjalan bersama beriringan.
            Ibu paham benar bagaimana perasaanku padanya, begitu pula sebaliknya. Ibuku menyukai pemuda itu, karena dia adalah pemuda yang baik dan agamis. Mungkin ibu berpikir dia baik untukku karena perlahan dapat membawa pengaruh baik untukku yang notabene gadis biasa pada umumnya yang tidak terlalu agamis. Waktu berlalu, semakin lama ibu mengenalnya dengan baik. Jika ibuku telah mengetahui semuanya, aku yakin ayahku juga mengetahui hal serupa. Namun, karena notabene ayahku adalah tipe pendiam, ayah lebih banyak memendam semuanya. Waktu masih terus berjalan, begitu pula perjalananku dengannya. Walaupun kami telah mengakhiri hubungan, namun perasaan tetaplah perasaan yang tak dapat di ubah dengan mudah. Aku masih sering bertemu dengannya, dia juga sering berkunjung ke rumahku entah untuk suatu keperluan atau hanya sekedar mampir.
             Hingga suatu malam ketika aku sedang membicarakan pemuda itu dengan ibu, ayah mengatakan bahwa aku masih berada dalam masa sekolah. Masih sekolah tingkat dasar dan tidak seharusnya mengenal hal semacam itu. Kata-kata itu lalu mengikuti setiap langkahku, melekat kuat dalam pikiranku yang kemudian menyadarkan aku. Aku tahu, ayah juga menganggap pemuda itu pemuda yang sangat baik. Aku yakin ayah sebenarnya menyukai pemuda itu jika dia denganku. Ayah hanya mengkhawatirkan aku. Pada akhirnya, aku sudah tak kuasa menahan semuannya sendiri. Aku memutuskan untuk membaginya dengan pemuda itu. Mungkin dia memiliki solusi dalam hal ini.
            Aku mulai menceritakan semua padanya. Kurasa dia masih bingung dengan maksud pembicaraanku. Kemudian dia bertanya.
“Lalu apa maksudmu menceritakan ini semua?”
“Kamu tahu bagaimana perasaanku padamu. Aku tahu bagaimana kamu menyayangiku dan berkorban banyak untukku selama ini. Tapi aku juga menyayangi dan menghormati ayahku”
“Apa kamu ingin mengatakan bahwa kamu ingin benar-benar mengakhiri semuanya?”
“Tidak, bukan begitu maksudku. Aku juga tidak berniat mengembalikan amanah yang kau titipkan padaku. Aku hanya ingin menyeimbangkan semuanya. Antara kau dan ayahku”
“Lalu, apa yang kau inginkan sehingga berkata sedemikian itu?”
“Kau paham benar bagaimana hatiku padamu. Kau juga telah menitipkan sebuah amanah kepadaku. Apa itu berarti kau percaya padaku?”
“Aku sangat percaya padamu”
“Kalau begitu, izinkan aku mengatakan suatu hal. Simpan dan jaga baik-baik perasaanmu kepadaku, jangan kau beritahu siapapun tentang hal ini. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Anggap kita hanya teman biasa, anggap kita hanya saling mengagumi, anggap aku belum mengetahui tentang perasaanmu itu. Begitu pun sebaliknya kamu belum tahu kalau aku menyukaimu”
“Apa ini? Bagaimana bisa aku melakukan hal itu?”
“Kamu bisa melakukan hal ini. Jika kamu yakin akan hatimu, kamu yakin bahwa kesetiaan kadang tak sejalan dengan kebersamaan. Yakinlah bahwa Tuhan akan menjaga perasaan kita berdua”
“Tidak, aku tidak mungkin sanggup melakukan hal itu”
“Kamu tahu, bagaimana aku sangat menghormati dan sangat ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Aku mencintaimu, tapi aku juga menghormati ayahku. Jika benar kamu mencintai dan menyayangiku, kamu akan bisa melewati semua ini. Dan jika saatnya tiba, kau boleh mengatakan bahwa kau mencintaiku kepada ayahku”
“Tapi…”
“Jika memang kau tak dapat menerima alasanku karena ayahku. Maka dengarlah alasan keduaku, mengapa aku mengatakan hal ini padamu. Kau adalah pemuda yang sangat baik dimataku, dan memang pada kenyataannya kau baik. Kepribadian dan sikapmu selama ini begitu terkesan dihatiku. Aku yakin, kau adalah pemuda yang baik untukku. Tapi semua itu membuatku sadar, bahwa aku bukan gadis yang baik untukmu. Ketahuilah aku tak sesempurna kelihatannya, aku tak sebaik yang kau kira. Jika menyadari hal itu ingin rasanya aku pergi berlari jauh darimu. Namun, aku tak bisa karena ku juga sadar bahwa aku terlalu menyayangimu. Aku takut kehilangan sosokmu yang selalu menjadi embun dalam pagiku. Dengan alasan bahwa aku bukan gadis yang baik untukmu dan kamu terlalu baik untukku, maka ijinkan aku sedikit melangkah jauh darimu dan membawa perasaanku untuk kusimpan dan ku jaga dalam hati. Aku akan berusaha menjadi sosok baik yang pantas untukmu. Percayalah, jika saat itu tiba aku akan kembali kepadamu dan memberikan hatiku untukmu lagi, sepenuhnya…”
Kamis, 15 Agustus 2013

Lonceng Kerinduan Part 4



Pucuk di cinta ulam pun tiba. Mungkin pepatah itu yang tepat untuk menggambarkan suasana saat itu. Ayah dan ibu Kayla memang setuju dengan Yuvan. Karena mereka tau bahwa Yuvan adalah anak ynga baik dan akan selalu menjaga Kayla. Hal ini terbukti minggu depan Yuvan akan di ajak Ayah dan Ibu Kayla ke ebuah pantai dekat tempat tinggal mereka...
Saat di Pantai.....
Kayla, Yuvan, Ardi dan Zahra mereka berempat bergandengan tangan dan berteriak sekeras-serasnya untuk melepas masalah mereka. Namun, kegiatan itu berakhir ketika Ayah Kayla memanggil Ardi dan Zahra untuk membantu menyiapkan makanan.
Saat itu Yuvan sedang berada tidak jauh dengan Ayah dan Ibu Kayla. Tidak lupa di samping Yuvan tentu ada Kayla. Kali ini Yuvan ingin membicarakan sesuatu pada Kayla.
“Kay, aku mau kamu tahu kenyataan keadaan ekonomi keluargaku”
“Aku tahu, dan aku sangat paham. Lalu apa masalahnya?”
“Aku dapat biasiswa sekolah di Jakarta. Dan mengingat keadaan ekonomi keluargaku yang tidak semapan keluargamu. Aku nggak bisa menolak biasiswa itu. Dan dengan berat hati aku harus tinggalin kamu untuk beberapa saat”
“Van, aku sedih dengar kabar dari kamu. Tapi, aku juga seneng. Karena kamu bisa sekolah di sana”
“Tapi tenang. Aku akan selalu kasih kabar ke kamu tentang keadaan aku disana. Kay, aku ada sesuatu buat kamu”
“Apa?”
Yuvan mengeluarkan kotak berwarna pink. Warna pink adalah warna kesukaan Kayla.
“Apa ini  Van?”
“Buka aja, kamu akan tahu. Aku harap kamu seneng”
Pelan-pelan Kayla membuka kotak warna pink dari Yuvan. Sebuah buku harian warna pink, sebuah kalung dengan leontin berbentuk hati, dan sebuah lonceng.
“Lonceng?” tanya Kayla heran.
“Ya, lonceng. Buku harian itu untuk tulis apapun yang kamu rasain dan cerita-cerita  bagus di hari-hari kamu. Kalung itu, Cuma untuk simbol, bahwa aku masih sama kamu. Dan lonceng itu, lonceng itu akan berbunyi saat aku kangen sama kamu”
“Emang bisa”
“Bisa donk, kita kan punya ikatan batin, heheheh..... Kay, aku akan berangkat besok jam 08.00 pagi. Kamu gak usah ngantar aku. Aku tahu besok kamu ada tes kan? Aku akan sms kamu aja. Okey?”
“Iya. Semangat ya di sana? Aku pasti tunggu kamu”
* * * * * * *
Keesokan harinya.....
            Yuvan berangkat dengan menggunakan bus tujuan Jakarta. Sebelum berangkat Yuvan mengirim pesan singkat pada Kayla untuk memberi kabar bahwa dia akan berangkat. Meski saat itu cuaca sedang tidak bagus. Namun, hujan badai saat itu tidak mengurungkan niat Yuvan untuk berangkat.
            Sore hari sekitar jam 16.00 di rumah Kayla.....
            Kayla sedang asyik membaca buku di ruang tamu. Tiba-tiba ada yang memecet bel rumahnya. Saat itu hanya satu hal yang terlintas di benak Kayla. Siapa yang bertamu di saat hujan deras seperti ini? Dan saat membuka pintu, Kayla sangat terkejut melihat orang yang berdiri di depan pintu rumahnya. Yuvan, dialah yang bertamu ke rumahnya. Diadatang dengan badan basah kuyub dan wajah yang pucat.
            “Van, kamu nggak jadi berangkat? Kok kamu ada di sini? Kamu kehujanan pula, ganti baju dulu nanti baru kita bicara. Kamu langsung ke kamarku saja. Aku akan ambilkan handuk dan baju ganti milik Ardi yang tertinggal di sini. Oh oya, kamu mau minum apa? Teh hangat ya?”
            Dari sekian banyak kata yang di ucapkan oleh Kayla, tak satupun di jawabnya. Kayla yang saat itu bingung juga tak merasa aneh dengan hal itu. Ia beranggapan bahwa, mungkin saja Yuvan kedinginan dan malas bicara.
            Setelah menagmbilkan handuk dan baju ganti Kayla segera membuatkan minum untuk Yuvan. Saat Kayla akan menuangkan air panas ke gelas, Hp Kayla berdering.  Ardi, dialah orang yang menelfon. Ada apa, sampai Ardi menghubunginnya? Mungklin ada masalah? Kayla juga ingin memeberi tahukam bahwa Yuvan ada di rumahnya.
            “Assalamu’alaikum Ar, ada apa?” Kayla memulai pembicaraan.”
            “Kay, kamu udsh tahu kabar terbaru tentang Yuvan?”
            “Yuvan? Kenapa?”
            Kayla bingung kabar apa tentang Yuvan? Padahal Yuvan ada di rumahnya.
            “Yuvan. Saat di perjalanan kecelakaan, dan tidak ada korban yang selamat”
            Kata-kata Ardi bagai petir yang menyambar hatinya. Bagaimana tidak? Yuvan baru saja ia lihat dan sekarang sedanga ada di kamarnya? Jika memang kabar yang di berikan Ardi benar, lalu siapa yang ada di kamarnya?
            Kayla langsung menutup telfon dan berlari menuju kamarnya dengan bercucuran air mata. Aneh, sangat aneh. Di kamarnya tidak ada siapa-siapa. Yuvan yang tadinya ada di dalam kamar, sekarang sudah menghilang. Kayla menyadari akan hal itu. Iya pun langsung menangis sejadi-jadinya. Namun, dia melihat ada selembar kertas di atas buku harian yang di berikan oleh Yuvan.



Untuk kekasihku Kayla....
Janganlah kamu menangis ketika aku jauh dari mu.. karena aku pergi hanya sementara.. tak untuk selamanya.. aku akan selalu menyayangi dan mencintaimu di sini... hapuslah air mata di pipimu... aku tak ingin ada kesedihan...
Jangan khawatir aku akan melupakanmu, aku di sini akan selalu merindukanmmu... ketika aku merindukanmu lonceng yang ku berikan pada mu itu akan berbunnyi. Dan itu tandanya aku sedang rindu padamu. Saat itu pegang erat kalung pemberianku...
Dari kekasihmu Yuvan...


Surat pendek itu semakin membuat Kayla sedih. Surat pendek itu berasal dari Yuvan dengan tulisan tinta merah. Ia langsung membuka lemari dan mencari kotak pink pemberian Yuvan. Di situlah ia menyimpan Kalung dan lonceng itu. Ketika ia sudah menemukan kotak itu dan akan membaca surat kecil tadi, surat itu sudah tidak ada di tempat. Dia menyadari ada yang lebih kehilangan darinya. Orang tua Yuvan akan lebih kehilangan. Namun, ia sedikit menyesali. Mengapa kebersamaan yang baru berlangsung harus berakhis begitu cepat.
* * * * * * *
            Suatu malam ketika Kayla sedang belajar.....
            Waktu menunjukkan pukul 20.30. tiba-toba lonceng yang tergantung di atas meja belajarnya berbunyi. Ia tahu bahwa saat itu Yuvan sedang merindukannya. Kemudian Kayla segera meraih kalung yang ia kenakan dan menggenggamnya dengan erat dan berkata.
            “Tenanglah Yuvan... aku juga rindu pada mu.... aku sayang kamu..”
            Sesaat kemudian lonceng itu berhenti berbunyi...
            Kejadian itu berulang di malam-malam yang lain. Namun, Kayla tak merasa takut atau pun risih. Karena ia tahu bahwa itu adalah tanda bahwa Yuvan masih sayang dan mencintai dirinya.
***The End***